Studi Kristologi 28/05/2006
MISI KRISTENISASI DI MEDIA
BERPOROS DOKTRIN TRITUNGGAL
Latar Belakang Masalah:
o Misi internasional dalam kasus Timtim (1997) adalah perhatian pada sesama hamba yang tertindas oleh kemiskinan “sejalan dengan konsepsi gereja yang menderita”. Penderitaan mereka adalah derita gereja yang universal, maka intervensi kemanusiaan untuk warga Timtim berubah menjadi wajib dalam tugas ketuhanan. Terakhir bisa terulang dalam kasus misi penyelamatan Papua (Kompas, 24/05/06), kita ingat doktrin Katolik “tiada keselamatan di luar Gereja” dan bagi Protestan “tiada keselamatan di luar Kristen” (Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama, Tinjauan Kritis, Perspektif KGI, Jakarta, cetakan ke-1, 2005, hal 20, 77, 249, 256).
o Misi global ini dapat dilihat pula dari berhasilnya pengaruh tren pemikiran pluralisme-liberalisme dikalangan Muda Indonesia dengan mengangkat isu-isu aktual seperti keadilan sosial, tenaga kerja, gender, kebebasan dll. dengan menghubungkannya pada konsepsi kebangsaan. Seminar Reformasi Visi Indonesia 2030 dikemas dengan baik oleh penyebar misi, menggiring opini bahwa terjadi intervensi kapital atau penguasaan pasar global di dalam negeri dan pemaksaan fundamentalisme sektarian lokal (baca Kompas, 19-20 dan 22/05/06!).
o Gerak kristenisasi dunia telah menggurita di lingkungan kita. Agenda global yang diboncengi misi gereja, tidak bisa dilepas dari tiga doktrin akar keyakinan mereka meski Yesus misalnya hanya untuk kaum Israel (Mat 15:24, Kis 5:31, Why 5:5, Mat 2:1,2,5,6), faktanya ajaran bernafas gereja terus disebar, bahwa 2020 akan terjadi transformasi amanat agung disusul turunnya Yesus. Sementara QS 114:1-6 mengindikasi ketuhanan buat seluruh manusia itu berwujud rububiyyah – mulukiyah – uluhiyah yang bersifat spiritual mendasari setiap amal manusia (Tafsir Al-Munier Jilid 30, Wahbah Zuhaili hal 480-483). Diperlukan sikap kritis membaca perkembangan dakwah misi, yang tak melepaskan dasar pemikiran/keyakinan dari langkah aksi, demikian pula konsistensi dan kesabaran menjalankan agenda dakwah bersama.
Dakwah Misi Di Media:
o Penguasaan Kristologi yang lemah dalam banyak kasus menjadikan dakwah Islam kurang efektif, bahkan pemikiran barat mendominasi diskursus dakwah misi di media. Padahal akar teologi gereja hingga kini kabur dan tidak selesai dalam perdebatan internal mereka (Yoh
o Ibarat sepakbola, kondisi umat saat ini memasuki permainan babak akhir, maka dibutuhkan kerjasama yang padu oleh semua unsur pemain dakwah misi disertai pemahaman peta lapangan serta anatomi strategi lawan tanding. Adakah peran kecil (operan bola atau gerakan pengecoh) yang mampu disumbangkan pada pos-pos da’i misi di lingkungan lapangan dakwah? Logika pasar (lapangan) mesti dikuasai, juga pilar keislaman yang utuh akan menerangi jalan pertandingan, bahwa organisasi serangan mutlak diatur di setiap lini dakwah.
Aksi Dakwah Bagaimana Yang Dibutuhkan? :
o Karena inti gerakan kristenisasi berporos pada tritunggal, maka sasaran penting yang strategis adalah “merobohkan” doktrin tersebut. Faham-faham global berupa pluralisme, sekularisme, liberalisme dan turunannya yang saat ini dipasarkan media gereja dimanapun berdiri diatas fondasi keyakinan Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Tuhan Yesus. Teologi ini melahirkan ajaran dosa waris, penyaliban Yesus, keselamatan gereja dan Kristen, kenabian Yesus, yang berakibat pengkaburan konsep ketuhanan Kristus maupun kontradiksi ayat-ayat Alkitab. Mereka selalu berpaling (Luk 9:20, 24:43, Mat 28:19) dan menyembah selain Allah (QS 42:15, 5:73-77). Memahami teologi gereja berdasar anatomi Alkitab bisa efektif menghalau sebaran doktrin. Membaca peta kristenisasi di media, akan memperjelas strategi “bermain”.
o Menejemen aksi bersama menghadapi misi kristenisasi di media, kian bermakna apabila dimulai dari yang kecil-kecil dan berasal dari lingkungan sendiri. Mengenal substansi taqwa, kufur dan nifaq mempertegas garis perjuangan dan selamatkan bakti agama (QS 2:1-20). Konsep Ibda Bi Nafsika mengurai kemudahan langkah-langkah dakwah misi, menguatkan bangunan pilar keyakinan berislam serta menumbuhkan energi-sinergi dakwah berkelanjutan.
o Melalui target misi skala kecil, yakni meneruskan agenda Forum ini, maka perubahan pelan tapi pasti akan sampai pada hasil (visi material maupun misi spiritual) gerak dakwah yang lebih baik. Tausiyah diantara kita sangat dibutuhkan, agar hasil-hasil kecil itu tidak malah membebani langkah besar di masa yang akan datang. Wallahu a’lam [ ]
TRITUNGGAL VS TAUHID:
PERAN (AKAL) ANDA?
Mat 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka
dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
Mat 28:20 dan ajarlah mereka
melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.
Ayat Amanat Agung di atas merupakan ayat-ayat tambahan, karena mulai ayat 16-20 baru ditambahkan ± 300 tahun kemudian oleh para penginjil, hingga menjadi ayat penginjilan seperti ditulis Hugh J. Schonfield nominator Nobel 1959 dalam The Original New Testament: ”Ayat Matius 28:15 ini adalah penutup Injil (Matius). Dengan demikian, ayat-ayat selanjutnya (16-20) nampak sebagai yang baru ditambahkan kemudian. Mat 28:15, berbunyi: ”Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.” Oleh Prof. Robert Funk dari Universitas Harvard, dalam buku The Five Gospels mengomentari ayat-ayat tambahan ini sebagai berikut: “Perintah utama dalam Matius 28:16-20…diciptakan oleh para penginjil…Yesus sangat mungkin tidak memiliki ide mengajarkannya ke seluruh dunia dan (Yesus) sudah pasti bukan pendiri lembaga ini. Ayat ini tidak menggambarkan perintah yang diucapkan Yesus.” (Pengantar buku Dokumen Pemalsuan Alkitab, Molyadi Samuel AM., 2002)
Sementara doktrin ayat di atas juga berbeda dengan ajaran Yesus Kristus (± 6 SM – 30M), tertulis dalam Injil Yohanes 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Oleh pengaruh Rasul Paulus ratusan tahun setelah era Yesus, doktrin itu terbaca dalam Injil Mat 23:9 Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. 23:10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Disini diduga sistem pewahyuan bisa dimungkinkan; bahwa penulis Alkitab mendapatkan ilham dari Tuhan; atau melalui Roh Kudus; atau diberkati oleh Tuhan. Kebanyakan para penulis Alkitab itu masih bersaudara dan belum pernah bertemu dengan Yesus sendiri seperti halnya Paulus yang bahkan menisbatkan dirinya sebagai Mesias.
Perbedaan siapa tuhan itu semakin tajam jika kita ikuti eksistensi oknum Tuhan lain dalam ayat-ayat Alkitab Yohanes 10:30 Aku dan Bapa adalah satu. Mazmur 84:12 Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela. Sebutan matahari dan perisai pada ayat ini sama dengan julukan yang terdapat pada God of Light, The Lamb (domba) dan Light of The World, Jesus Christ Son of God (juga era Musa AS abad ke-14 – 13 SM banyak tuhan-tuhan lain). Hal ini mengingatkan pula julukan-julukan pada Tuhan Pagan seperti Zeus (Leo = Jupiter = Singa); di Mesir: Osiris – Horus – Typhon; di Persia: Oromasdes – Mithra – Ahriman; di Mexico: Yzona – Bacab – Echiah; di Skandinavia: Odin – Thor – Frey. Tiga oknum tuhan ini dalam kepercayaan Hindu disebut juga Tritunggal, satu tuhan dalam wujud Brahma – Visnu – Siva. Setelah era Trimurti, datangnya Siddharta Buddha (± 563 – 483 SM) adalah dalam rangka pencarian tujuan hidup (samawiy) sejati menemukan figur Tuhan yang sebenarnya, Sang Hyang Adhi Buddha. Tipologi ketuhanan Kristen mengenal pula: Tuhan Bapa – Anak Allah – Roh Kudus, dimana ajaran utama ini juga mereka sebut Tritunggal atau Trinitas. (Lihat Bab 6, Hindun Al-Mubarok dalam ”Langit Merah di Atas Salib”).
Masuknya Hindu sejak tahun 100 M berpengaruh sangat luas di alam pikiran manusia Jawa. Kepercayaan terhadap dewa disebut juga tuhan yang tiga tergambar jelas dalam wujud candi-candi Brahma-Wisnu-Siwa di kompleks Prambanan dan lainnya, mengingatkan pada sejarah kepercayaan kuno di Babil dan Asyur sampai Mesopotamia, yakni ANU penguasa langit, ENHIL penguasa bumi dan EA penguasa laut. Pada abad 1 M di Palmyra percaya adanya Allah Bulan, Langit dan Matahari. Sementara kepercayaan tritunggal di Mesir abad ke-2 adalah Horus – Isis – Osiris, dan pada zaman Ramses II menjadi Amon – Ra - Nut. (The Short History of Six Worship, H. Cutner, London, 1904, hal 16). Sejarah Tritunggal dalam keyakinan gereja menyangkut keesaan Tuhan dalam tiga wujud Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus baru dimulai pada Konsili Nicea (325M) diprakarsai oleh Kaisar Konstantin dan dipertegas doktrin tersebut di Konstantinopel pada masa Kaisar Theodosius tahun 381M. Sesungguhnya peletak dasar tritunggal bukanlah Yesus melainkan para penginjil sendiri. (QS Ali Imron [3]:78, lihat makalah FDK “Akar Teologi Kristen Dalam Pandangan Al-Qur’an” oleh penulis, 2006).
Pada masa Abraham, awal milenium ke-2 SM, Al-Qur’an An-Najm [53]: 19-20 pernah mengingatkan hal keyakinan polytheistic seperti tritunggal (Al-Ma’idah [5]:73)
Perhatikan cara Al-Qur’an mengidentifikasi Trinitas Yang Lain, bahkan QS 2:116; An-Nahl [16]:49; dan Ar-Ra’d [13]:15 dengan pasti Allah memberitahukan bahwa semua makhluk ciptaan yang dipertuhankan selama pencarian manusia sejak dahulu itu akan menjadi tunduk dan patuh, malah QS Ali Imron [3]:83 menyebutnya aslama dengan suka maupun terpaksa, karena hanya Allah yang berhak disembah dan disebut Tuhan. Dalam konteks pencarian manusia akan tuhannya inilah para Nabi dan Rasul itu diutus, bahwa akal manusia amat terbatas mengenali tuhannya serta memang tidak ada tuhan lain menyerupai selain Allah (QS Al-Anbiya’ [21]:25, Al-A’raf [7]:59,65,85) maka manusia harus ikhlas menerima dan menyembahNya (Az-Zumar [39]:11). Berita Al-Qur’an yang disampaikan Rasul itulah wahyu, hingga keyakinan adanya Allah dan Rasulullah, sebagaimana keyakinan akan MalaikatNya, Hari Qiyamat serta adanya Takdir Allah merupakan konsep dasar doktrin Islam. Al-Qur’an menegaskan, bahwa manusia masih selalu mencari-cari alasan untuk kufur tidak meyakini serta bagian terbesar enggan menyembahNya (QS Az-Zumar [39]:3; Yusuf [12]:106; Anbiya’ [21]:24 dan An-Naml [27]:14).
Dalam kitab At-Tauhid, KMI, Ponorogo menerangkan hal kalimat syahadah yang berisi ikrar “Tiada Tuhan Selain Allah, dan Muhammad Rasul utusan Allah” itu mengisyaratkan konsekwensi adil al-mizan bil-qisth (QS Alhadid [57]:25) bahwa seorang muslim: (1) mengucapkannya dengan ilmu pengetahuan pemahaman arti syahadatain; (2) meyakini sepenuhnya tanpa keraguan; (3) menerima ke-esa-an Allah tanpa berusaha kufur keluar dari aturanNya; (4) mengikuti tuntunan risalah tanpa meninggalkannya; (5) menerima tauhid secara ikhlas tanpa menyekutukanNya; (6) membenarkan syahaadatain tanpa mendustainya; (7) mencintai syahaadatain serta mendahulukan apa-apa yang berasal darinya lebih dari yang lain.
Sedangkan arti kufr merupakan lawan kata iman, terdiri
menjadi munafiq (Al-Munafiqun [63]:3) bahkan menjadi murtad dengan ucapan-perbuatan-keyakinan (Al-Baqarah 21, 217, Al-Ma’idah 78-80); kufur nikmat (An-Nahl [16]:112).
Pemahaman kufur nikmat adalah tingkat kekufuran terakhir berupa dosa kesalahan manusia disebabkan menuruti nafsu dan akalnya setelah diberi kenikmatan-kenikmatan, bukan berarti keluar dari agama atau seperti kesesatan yang disinyalir QS 2 :8-20. Persoalan akal inilah dalam sejarah keyakinan menempatkan manusia dalam pilihan-pilihan tak terbatas diantara politeisme – monoteisme atau diantara varian yang selalu terjadi. Pengaruh media agar manusia bias dari keyakinan dan prinsip-prinsip tauhid amat gencar sekali berdatangan (lihat lihainya Kompas mengelola Lingkar Penulis Muda dst. !) atau dibentur-benturkan nilai dasar komunikasi masyarakat melalui kebebasan-kesetaraan-solidaritas dengan prinsip keberagaman hidup berbangsa. Kebhinekaan nusantara dimanfaatkan menjadi pintu ampuh memasuki materialisme, multikulturalisme, maupun faham lain hingga kebenaran menjadi relatif dan pada saatnya gaung Amanat Agung tahun 2020 itu bagi kaum Kristiani menuai kenyataan. Apakah transformasi di Indonesia (baca pemurtadan) yang sedang terjadi ini berawal dari perubahan-perubahan nilai yang bersumber dari keyakinan beragama ? Wajar jika Undang-Undang « …tidak menjadikan umat yang telah beragama sebagai sasaran penyebaran agama masing-masing » itu ditolak pihak Kristiani dalam Musyawarah Antar Golongan Agama 30 November 1967. Mereka mati-matian menyebarkan Trinitas (Mrk 16 :15 dan Mat 28 :19) serta celakalah orang yang tak mau memberitakan Injil (1 Kor 9 :16). Dean Wiebracht dalam buku ”Menjawab Tantangan Amanat Agung”, Andi, 1992 menantang para Pendeta di seluruh dunia disinilah bagian mereka, setiap orang adalah sekaligus penginjil.
Maka tepatlah kondisi ini dengan firman Allah bagi yang tidak menyadari peranan jihad menegakkan tauhid (At-Taubah [9]:31; An-Nisa’ [4]:171), memerangi hawa nafsu dan melindungi kaum muslimin dari Misi Gereja (QS Ali Imron [3]:142), serta terlebih cara kita memperkuat aqidah dengan mengamalkan syariat dan menebar akhlak yang baik di sekeliling. Bahwa pribadi muslim memiliki tanggung-jawab di masing-masing posisinya untuk selalu menjadikan Al-Islam membawa rahmat, mensinergikan jiwa tauhid ke dalam penjuru profesi dan amaliah dakwah sesuai kemampuan. Bahwa kelak semua akan mempertanggung-jawabkan amal itu di hari kiamat yang tanda-tandanya semakin nampak terus mendekat. Wallahu a’lam bis-showab! [ ]
* Disampaikan dalam silaturahim Forum Dakwah Kristologi di Blunyahrejo, Sabtu 16 sep 2006.
No comments:
Post a Comment