Friday, November 24, 2006

PEMURTADAN

STRATEGI MENGATASI PEMURTADAN

Andi *)

QS Al-An’am [6]:70. Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama (Islam) mereka sebagai main-main dan senda gurau [tidak sungguh-sungguh], dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa'at[*] selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, bagi mereka (disediakan) minuman dari air mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.

[*] Usaha perantaraan dalam memberi sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. Syafa'at yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa'at bagi orang kafir.

TRINITAS ADALAH DASAR PEMURTADAN

Jika dicermati kegiatan pemurtadan oleh misionaris gereja tak lebih merupakan penyebaran doktrin trinitas agama Kristen, serta membelokkan misi kerasulan Yesus, sebab dia diutus hanyalah untuk bangsa Israel semata sebagaimana dapat dikenali melalui ayat-ayat Yesaya 43: 11-12 beikut;

Bahwa Aku ini, bahkan Akulah Tuhan, lain daripadaku tiadalah Juru-Selamat. Bahwa Akulah yang sudah berfirman, yang menolong dan yang sudah mengajarkan, dan bukanlah allah asing yang ada diantara kamu; Kamulah saksi-saksiku, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku ini Allah.

Yoh 17:3 Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka itu mengenal engkau, Allah yang Esa dan benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu.

Sebutan dan cara penulisan Tuhan sebagai Allah pada ayat diatas bisa mengaburkan pikiran, apakah yang dimaksudkan sama dengan ayat-ayat monoteis seperti ”Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu” (Kel 20:3), ”Allah...mengatasi segala allah” (Maz 95:3) dan ”Sebab Allah kami lebih besar dari segala allah” (II Taw 2:5). Ataukah maksudnya Allah dalam arti tritunggal (polytheis).

Sejarah Trinitas, sering disebut Tritunggal dalam keyakinan gereja menyangkut keesaan Tuhan dalam tiga wujud yakni Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus baru dimulai pada Konsili Nicea diprakarsai oleh Kaisar Konstantin tahun 325M dan dipertegas doktrin tersebut di Konstantinopel pada masa Kaisar Theodosius tahun 381M. QS Al-Baqoroh 79 menginformasikan, bahwa memang terdapat manusia yang menulis isi kitab suci dengan tangannya lalu mengatakan itu berasal dari Tuhan. Maka ayat berikut bermakna jauh dari keesaan sekaligus merupakan dasar penyesatan itu:

Mat 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, Mat 28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Ayat ini merupakan ajaran susulan bukan berasal dari Yesus, karena Injil Matius pasal 28 ayat 16-20 baru ditambahkan ± 300 tahun setelah kenabian Yesus oleh para anonim, hingga menjadi ayat penginjilan seperti ditulis Hugh J. Schonfield nominator Nobel 1959 dalam The Original New Testament: ”Ayat Matius 28:15 ini adalah penutup Injil (Matius). Dengan demikian, ayat-ayat selanjutnya (16-20) nampak sebagai yang baru ditambahkan kemudian. Mat 28:15, berbunyi: ”Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.” Oleh Prof. Robert Funk dari Universitas Harvard, dalam buku The Five Gospels mengomentari ayat-ayat tambahan ini sebagai berikut: “Perintah utama dalam Matius 28:16-20…diciptakan oleh para penginjil…Yesus sangat mungkin tidak memiliki ide mengajarkannya ke seluruh dunia dan (Yesus) sudah pasti bukan pendiri lembaga ini. Ayat ini tidak menggambarkan perintah yang diucapkan Yesus.” (Pengantar buku Dokumen Pemalsuan Alkitab, Molyadi Samuel AM., 2002).

Ayat tersebut juga berbeda dengan doktrin keesaan yang diajarkan Yesus (± 6 SM – 30M), tertulis dalam Injil Yohanes 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Oleh pengaruh Rasul Paulus ratusan tahun setelah era Yesus, doktrin itu menjadi kabur dari yang terbaca dalam Injil Mat 23:9 Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. 23:10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Disini sistem pewahyuan bisa dimungkinkan; bahwa penulis Alkitab mendapatkan ilham dari Tuhan; atau melalui Roh Kudus; atau diberkati oleh Tuhan. Kebanyakan para penulis Alkitab itu masih bersaudara dan mungkin belum pernah bertemu dengan Yesus sendiri seperti halnya Paulus yang bahkan menisbatkan dirinya sebagai Mesias. Injil kanonik (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) bahkan belum eksis dalam bentuk gabungan hingga sekitar 40 – 70 tahun setelah kenabian Yesus. Injil itu hanyalah cerita tentang Yesus oleh para anonim yang oleh gereja lalu diberi nama sesuai nama murid-murid Yesus dan diklaim sebagai sabda Yesus sebagaimana dikutip dalam firmanNya. Harus dicatat bahwa Injil Yesus yang orisinal tidak bisa ditemukan dalam korpus Alkitab. (Salib Di Bulan Sabit, Jerald F.Dirk, Serambi, 2004 hal 93 & 253).

Perbedaan siapa tuhan semakin tajam jika kita ikuti eksistensi oknum Allah lain dalam ayat-ayat Alkitab Yohanes 10:30 Aku dan Bapa adalah satu. Mazmur 84:12 Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela. Sebutan matahari dan perisai pada ayat ini sama dengan julukan bahwa Allah adalah api yang menghanguskan (Ibr 12:19), Yesus sebagai persembahan korban yang harum (Efesus 5:2) sama dengan anak domba God of Light, The Lamb (domba) 1Kor 5:7, Jesus Christ Son of God (juga era Musa AS abad ke-14 – 13 SM) jadi tuhan-tuhan lain yang bersifat pagan. Wajar kritik QS An-Nisa’ [4]:171 berbunyi: Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam beragama, jangan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih Isa putra Maryam adalah utusan Allah dan kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam (dengan tiupan) roh dariNya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu mengatakan: ”Tuhan itu tiga” berhentilah dari mengucapkan itu, akan lebih baik bagimu! Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaanNya.

Jika ditelaah ajaran tritunggal dan pemurtadan Mat 28:19 yang mengelabuhi umat Kristiani ini terkandung di dalamnya kelemahan mendasar antara lain; terputusnya ajaran keesaan Allah yang dibawa Yesus dan terputusnya kenabian Yesus (Yoh 14:16-17 dan QS 1:27). Doktrin tritunggal juga tidak ditemui pada Perjanjian Lama; ”Dengar hai orang Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa..” (Ula 6:4). Doktrin ini tersiar bertahap lewat banyak perdebatan, akhir abad 4 terbentuk pada skema doktrin yang sekarang.(Encyclopedia Britannica, 1976, 10:126). Konsekwensi lebih jauh adalah pertentangan pandangan tentang trinitas, dan terbongkarnya rahiasia ”pemurtadan” seperti tersebut diatas sebagai landasan amanat agung, juga dituliskan dalam Alkitab 2 Yoh 1:7-11 di bawah ini;

1:7 Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.

1:9 Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak.

1:10 Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. 1:11 Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat

Murtad agama, berarti keluar dari keyakinan tauhid, namun juga bermakna ingkar dari janji penciptaan hingga memilih jalan lain yang berlawanan. Sehingga dalam Islam (juga Kristen!), resiko orang yang murtad adalah: amalnya dihapus (QS 39:65), darahnya halal, kehilangan hak waris dan perwalian, perkawinan dengan muslim terputus, tidak boleh dido’akan, penolongnya setan, Allah tak lagi melindungi dan memberi hidayah, serta dia akan kekal menghuni neraka (QS 3:10).

QS Al-Maidah 5:54. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

QS Al-Baqarah [2]:27. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.

Dengan demikian, ayat diatas memberi alasan sejarah pemurtadan, yakni kecenderungan manusia untuk bias dan membelokkan serta memutus sesuatu yang haq, seperti memutus hubungan kausalitas:“dan mereka memutuskan kebenaran yang diperintahkan Allah, yaitu untuk menghubungkan tali hubungan serta tidak merusak di bumi”. Langkah itu seperti merusak perjanjian saat manusia ditanya bukankah Aku Tuhanmu, maka manusia menyembah seraya membenarkan “ba laa syahidna” Engkaulah Tuhan Yang Esa, mereka juga menutupi kebenaran bahwa Yesus adalah utusan Allah, dan mereka menyesatkan ajaran keesaan Allah (2 Sem 7:13-14) serta menyebarkan kesesatan itu ke seluruh dunia. Sungguh cara yang salah dari awalnya dan pasti akan binasa (Ibr 1:10-11). Al-Qur’an 2:27 diatas menegaskan, bahwa manusia cenderung memutus hubungan kausalitas (maka terputuslah sebab dari akibat), mereka memilah satu kenabian dari lainnya padahal Isa telah memberi tanda keutuhan arti kenabian dirinya sampai Muhammad SAW. QS Al-Baqarah [2]:146 menerangkan; Kaum Yahudi dan Nasrani yang telah Kami beri Alkitab mengenal Muhammad seperti mengenal anaknya sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. Pemutusan untuk tidak taat pada tatanan Syari’at dan prinsip Hudud, sedangkan putus hubung kepada Rahim, seperti disepakati Jumhur adalah bagian kecil dari itu. (Lihat Tafsir AL-MUNIR, Wahbah Musthofa Zuhaili, Darul Fikr Beirut, 1991 juz 1 halaman 114).

Demikian pula bahwa ajaran trinitas (Mat 28:19-20) menjadi landasan untuk menebar doktrin sesat gereja, sedangkan mereka sadar Tuhan tahu atas kesalahan yang mereka lakukan (Maz 139:4, Luk 8:17). Adanya Dosa Waris dengan memanipulasi kenabian Yesus sebagai figur tuhan, menjadikan alasan prilaku Siti Hawa yang makan buah terlarang sebagai awal kesalahan seluruh keturunan Adam, sekaligus mengangkat Yesus menjadi Juru Selamat yang membebaskannya dari dosa. Justru Yesus sendiri menyangkal dirinya Tuhan (Luk 18:19), melarang dirinya disembah (Luk 4:7-8) dan hanya menyembah Allah Tuhan Yang Esa (Ulangan 6:4). Kalau benar dia Tuhan, kenapa Yesus memohon pertolongan agar tidak disalib (Maz 33:20), bahkan tak kuasa mengatasi nasibnya sendiri (Mrk 14:33-34), serta ia tegaskan hanya Allah yang tahu bagaimana akhir nanti (Mat 24:35-36), hanya Allah sang juru selamat (Yes 43:11, Yes 60:16). Bandingkan dengan peringatan Allah surat Al-An’am ayat 70 seperti diatas agar tak terjerumus dengan tipu daya manusia menjadikan agama sebagai penebus dosa, nerakalah balasannya. Al-Qur’an menyatakan bahwa Yesus Kristus tidak disalib, melainkan diangkat dan kelak akan turun di akhir zaman. QS Maryam 22-37 menjelaskan kelahiran Isa AS yang kemudian dipertuhankan sebagai Yesus; padahal dia hanyalah seorang rasul untuk bangsa Israel dan diperselisihkan oleh kaum Kristiani.

Dengan gugurnya dasar ketuhanan Yesus, maka doktrin trinitas kehilangan makna yang sebenarnya, demikian pula ajaran keselamatan (Wah 12:10, Kis 15:11) yang hanya memiliki satu missi tujuan (Ibr 9:28), mengapa kenabian Yesus harus menanggung dosa kesalahan anak cucu Adam. Tiap umat menaklukkan dirinya sendiri atas kuasa Tuhan (Rum 13:1; QS Ali Imron 189) dan bukanlah sebab muasal kejadian berasal dari Yesus (1Kor 8:6) melainkan dari Allah (Maz 148:5). Ortodoksi Kristen tentang konsep penyaliban Yesus sama sekali ditolak oleh teks Kristen awal; Selama abad pertama Masehi, nama Yesus atau Joshua merupakan nama populer di Palestina, hingga Yesus kedua adalah orang yang diinterogasi dan kemudian disalib. Gereja awal tidak secara bulat menerima penyaliban Kristus, mereka bingung apa sebenarnya terjadi saat itu. Bahwa ajaran pokok gereja ini kemudian diketahui menyimpang dari fakta kebenaran, yang sengaja untuk penyesatan keyakinan.

STRATEGI MENGHADAPI PEMURTADAN AGAMA

Ajaran dosa waris dan doktrin-doktrin gereja lain adalah sarana penyesatan gereja yang berpangkal pada azas keyakinan trinitas, sebuah kecenderungan naluriah manusia untuk menyembah banyak Tuhan. Dalam sejarahnya, manusia tak mampu memperoleh jawab tentang penciptaan hanya dengan akalnya, dia butuh wahyu berupa petunjuk (hidayah) agama melalui seorang Rasul. Islam mengajarkan adanya tingkatan hidayah yang bisa dikenali dan mampu menyelamatkan hidup manusia; Pertama berupa naluri fitrah (ilham) sebagaimana dimiliki binatang. Kedua, hidayah berupa indera (chawas) yang berjumlah lima dengan masing-masing fungsinya. Ketiga, akal manusia yang membedakannya dengan hewan; Keempat adalah petunjuk agama berdasar wahyu, dan kelima terakhir berupa taufiq pertolongan Allah untuk mengatasi setiap persoalan manusia dalam hidup di atas jalan kebaikan.

Pemurtadan Agama yang berasal dari program kristenisasi dan penginjilan harus dilihat dalam kerangka dakwah Islam, yaitu bagaimana muslim memahami ajaran Tauhid bersumber wahyu serta mengamalkan syari’at Islam pada diri sendiri, keluarga dan masyarakat. ”Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudhorat kepadamu dan tidak pula memberi manfaat? Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 5:76).

Pada masa Ibrahim ±awal milenium ke-2 SM, QS An-Najm [53]: 19-20 pernah mengingatkan hal keyakinan polytheistic seperti tritunggal (Al-Ma’idah [5]:73), yakni firmanNya:

Perhatikan cara Al-Qur’an [53]:19-20 ini mengidentifikasi Trinitas Yang Lain, bahkan QS Al-Baqoroh [2]:116; An-Nahl [16]:49; dan Ar-Ra’d [13]:15 dengan pasti Allah memberitahukan bahwa semua makhluk ciptaan yang dipertuhankan selama pencarian manusia sejak dahulu itu akan menjadi tunduk dan patuh, malah QS Ali Imron [3]:83 menyebutnya aslama dengan suka maupun terpaksa, karena hanya Allah yang berhak disembah dan disebut Tuhan. Dalam konteks pencarian manusia akan tuhannya inilah para Nabi dan Rasul itu diutus, bahwa akal manusia amat terbatas mengenali tuhannya serta memang tidak ada tuhan lain menyerupai selain Allah (QS Al-Anbiya’ [21]:25; Al-A’raf [7]:59,65,85) maka manusia harus ikhlas menerima dan menyembahNya (Az-Zumar [39]:11). Berita Al-Qur’an yang disampaikan Rasul itulah wahyu, hingga keyakinan adanya Allah dan Rasul, sebagaimana keyakinan akan MalaikatNya, Hari Qiyamat serta adanya Takdir Allah merupakan konsep dasar doktrin Islam. Al-Qur’an menegaskan, bahwa manusia masih selalu mencari-cari alasan untuk kufur tidak meyakini serta bagian terbesar enggan menyembahNya (QS Az-Zumar [39]:3; Yusuf [12]:106; Anbiya’ [21]:24; An-Naml [27]:14). Titik celah inilah yang dimanfaatkan oleh para misionaris untuk melaksanakan penginjilan masif, sedang polanya lewat pemenuhan kebutuhan-kebutuhan materi umat yang minim aqidah miskin keyakinan serta pengetahuan agama.

Kitab At-Tauhid, KMI Gontor Ponorogo menerangkan hal kalimat syahadah yang berisi ikrar “Tiada Tuhan (Ilah) Selain Allah, dan Muhammad Rasul utusan Allah” itu mengisyaratkan konsekwensi adil yakni al-mizan bil-qisth (QS Alhadid [57]:25) bahwa seorang muslim: (1) mengucapkannya dengan kesadaran ilmu pengetahuan memahami arti syahadatain; (2) meyakini sepenuhnya tanpa keraguan; (3) menerima ke-esa-an Allah tanpa berusaha kufur keluar dari aturanNya; (4) mengikuti tuntunan risalah tanpa meninggalkannya; (5) menerima tauhid secara ikhlas tanpa menyekutukanNya; (6) membenarkan syahaadatain tanpa mendustainya; (7) mencintai syahaadatain serta mendahulukan apa-apa yang berasal darinya lebih dari yang lain. Penjelasan ketujuh makna keseimbangan tauhid ini menjadi landasan kerja dalam kegiatan keseharian muslim yang hanya memusatkan tujuan hidup kepada kuasa Allah SWT semata. Sedangkan arti kufr merupakan lawan kata iman, terdiri lima macam; yakni ingkar dengan cara mendustai Allah (QS Al-Ankabut [29]:68 dengan menyombongkan diri (QS 2:34); meragukan kebenaran yang haq (Al-Kahfi [18]: 35-38); berpaling dari Allah (Al-Ahqaf [46]:3);

menjadi munafiq (Al-Munafiqun [63]:3) bahkan menjadi murtad dengan ucapan-perbuatan-keyakinan (Al-Baqarah [2]:21, 217, Al-Ma’idah 78-80); kufur nikmat (An-Nahl [16]:112).

Pemahaman kufur nikmat adalah tingkat kekufuran terakhir berupa dosa kesalahan manusia disebabkan menuruti nafsu dan akalnya setelah diberi kenikmatan-kenikmatan, bukan berarti keluar dari agama atau seperti kesesatan yang disinyalir QS 2 :8-20. Persoalan akal inilah dalam sejarah keyakinan menempatkan manusia dalam pilihan-pilihan tak terbatas diantara politeisme – monoteisme atau diantara varian yang selalu terjadi. Beberapa contoh di dalam Al-Qur’an menggambar prilaku manusia yang cenderung merusak di bumi dengan kemaksiatan, fitnah (QS At- Taubah [9]:49), merintangi iman seseorang (QS Nuh [71]:7; An-Nahl [16]:94; Al-Furqon [25]:60; Asy-Syura [42]:52), penyesatan aqidah (QS [2]:217; Al-Ma’idah [5]:54), sehingga amal usaha mereka tak berguna (QS An-Nur [24]:39) disebabkan mereka menyebarkan keragu-raguan. Sedang strategi perusakannya, yakni beribadah kepada selain Allah; hatinya meyakini kebenaran tapi lain dalam tindakan termasuk menuruti hawa nafsu yang bersifat mengklaim, nikmat semu, penuh angan-angan dan mengandung birahi. QS Ibrahim [14]:27 dengan berbuat aniaya (dholim) dalam segala hal, mengikuti syahwat duniawi yang merupakan puncak segala kerusakan.

Bagian terluar persoalan manusia yang nampak adalah persoalan materi, namun kebutuhan esensi tetap pada ketenangan batin dan keberkahan hidup. Sedang kebutuhan-kebutuhan lainnya (menurut Abraham Maslow dan telah direvisinya sendiri yakni adanya kebutuhan spiritual) dapat dipenuhi berdasarkan prioritas, hingga peta kebutuhan itu berurut dari nomer satu sampai enam dimulai makan-minum, kebutuhan tempat tinggal sampai aktualisasi diri yang bersifat non-materi. Pada yang terakhir inilah manusia membutuhkan sebuah keyakinan ketuhanan. Sekarang ini oleh beragamnya kebutuhan, kian sulitlah orang memilah-milah pemenuhan kebutuhan hidup hingga para Penginjil memanfaatkan fakta kemiskinan umat untuk tujuan pemurtadan agama. Terakhir orang membenturkan persoalan keberagaman Indonesia dengan kebebasan beragama, dengan penerapan pembelajaran pluralisme agama di sekolah-sekolah bahkan ada sementara golongan yang takut dengan keislamannya. Disini akan terlihat pemikiran seseorang yang bertuhan dan yang tak bertuhan, antara aliran tauhid beserta akibat yang dihasilkan dengan faham pluralis, sinkritis dan atheis (lihat Trend Pluralisme Agama Tinjauan Kritis, Anis Malik Thoha, Perspektif, 2006). Secara material semua membutuhkan makan minum dan lainnya, maka pemurtadan agama melalui Supermie, Biaya Sekolah, Pacarisasi Muslimah, Sumbangan Pakaian, Rumah Tinggal dll. dapat diketahui niat yang sebenarnya, yakni merusak iman dan menebar kesesatan. Dari sini diketahui bahwa gerakan kristenisasi merupakan program gereja global dengan menggunakan segala cara; melanggar tatanan UU kerukunan antar umat beragama dengan penyiaran agama kepada umat lain melalui agenda, bantuan materi dan program pemikiran (non-fisik) dari segala lini dan tingkat kebutuhan.

Untuk meruntuhkan doktrin dasar trinitas, dengan pola-pola pemurtadan diatas harus difahami bahaya keseluruhan tujuan kristenisasi, maka kaum muslimin harus istiqomah melangkah pada masing-masing bidang diatas tuntunan Islam. Jika mereka menjalankan kristenisasi, yakni pemurtadan terselubung dengan jalur pendidikan, sarana materi, pemanfaatan media dan solidnya organisasi, kenapa ummat Islam berkutat pada cara-cara khutbah? Alternatif lain harus dirumuskan serta dilaksanakan seperti:

  1. Program imunisasi Aqidah yang terstruktur mandiri berkelanjutan dari Dasar-dasar Agama Islam yang dilakukan seefektif mungkin mulai dari individu, keluarga dan masjid-masjid berdasarkan tujuan sesuai tingkat, lokasi dan kapasitas kebutuhan. Program ini sebaiknya mengembalikan keluarga muslim khususnya pada ruh agama berdasarkan nilai Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.
  2. Perlu kerjasama ukhuwah yang padu demi menyebarkan, menjalankan dan memperjuangkan syari’at islam secara benar, baik dengan maupun tanpa mengindahkan rencana kristenisasi seperti agenda pemurtadan umat Islam. Mereka menyebutnya mulai tahun 2005 sebagai penuaian dan tahun 2020 sebagai Penggenapan Amanat Agung, bahwa nusantara telah tercerahkan mengimani Yesus. (Transformasi Indonesia, Jeff Hammond, penerbit MetaNoia, 2003 halaman 27).
  3. Orang tua perlu mencermati dengan kritis lingkungannya dan pengaruh media informasi (terutama televisi) yang dapat melemahkan aqidah keluarga, bahwa dakwah meliputi teologi visual dan selanjutnya. Orang tua memiliki kuasa mengkondisikan anaknya apakah menjadi muslim yang baik atau malah menjadi yahudi atau nasrani, demikian hadits riwayat Bukhori 1:1292, shohih Ibnu Hibban 1:129 dan Sunan Baihaqi 6:11918. Dibutuhkan langkah praktis untuk menggalang kekuatan pendidikan yang islami, ekonomi dan politik di masing-masing posisi maupun kapasitas pribadi, hingga hadirnya Islam di semua tempat menjadi berkah.
  4. Menggelindingkan basis-basis kekuatan aqidah yang ke dalam (internal umat) solutif memberi alternatif jalan keluar atas kesulitan dan kemunduran yang dirasakan keluarga-keluarga muslim antara lain dengan amal – iman – ihsan; dan ke luar umat Islam dengan memperbanyak dialog Agama Islam-Kristen yang berorientasi penyadaran dan dakwah, bukan semata bertujuan mengalahkan debat ketuhanan. Wa Allahu a’lam bis showaab!

*) Disampaikan pada sesi akhir Short Course Kristologi II di Masjid Syuhada’ tanggal 17-19

Agustus 2006.

Posted by : Kor 2

No comments: