Beberapa Makalah FDK:
HUBUNGAN DOSA WARIS
DENGAN DOKTRIN LAIN DALAM KRISTEN
LATAR BELAKANG:
Kepercayaan terhadap dewa disebut juga tuhan dalam jumlah jamak (pantheistik) seperti kepercayaan sebagian masyarakat Jawa merupakan kecenderungan kepercayaan manusia dalam sejarah filsafat ketuhanan. Karena itu terjadi sejak Jawa Kuno, ajaran animisme menemukan sinergi dengan kehadiran Hindu-Budha di awal-awal abad Masehi. Kepercayaan terhadap arwah leluhur dan kekuatan-kekuatan magis Sang Hyang ataupun dewa lain, sangat sesuai dengan prinsip ketuhanan Hindu-Budha. Kosmologi Jawa astabhrata sejak dahulu mengenal keseimbangan dan harmoni manusia dengan alam semesta yang terwujud delapan elemen yakni gunung, bumi, langit, angkasa, air, api, udara dan gas.
Sistem kepercayaan merupakan lingkar paling dalam dari keutuhan peradaban, dimana lingkar luar yang tampak yaitu hasil teknologi. Mahakarya candi adalah akibat adanya kepercayaan dan pemikiran manusia Jawa akan penciptaan alam dan seterusnya, seperti contoh dari hasil kebudayaan yang bisa dilacak berupa barang-barang logam untuk sarana kehidupan di masyarakat Jawa, Bugis dan Minang. Tradisi sadranan di daerah Jawa Tengah yang sampai sekarang dilengkapi dengan pertunjukan wayang kulit, kemungkinan merupakan pelestarian upacara penyembahan kepada roh leluhur dari masa prasejarah (Soedarsono, 1993), demikian pula upacara labuhan. Kepercayaan phanteis dari animis-dinamistik ini kemudian menjadi sinkritis diperkaya dengan masuknya Hindu sejak tahun 100M yang pengaruhnya sangat luas di alam pikiran manusia Jawa. Disusul ajaran Budhisme dan Islam seperti larangan penggunaan kekerasan, cinta sesama makhluk hidup dan anjuran agar manusia memperhatikan rahasia alam, telah memperkaya mata pencaharian hidup, perlengkapan, pengetahuan, seni-bahasa, kemasyarakatan seperti bentuk upacara adat dan sistem peribadatan.
Maka sangat mungkin konsep ajaran Hindu bercampur aduk dengan sesama asas pantheistik seperti bangunan suci yang diposisikan di tempat tinggi dan tanah pegunungan, karena gunung adalah tempat bersemayam arwah para dewa. Bangunan candi sendiri berfungsi sebagai replika gunung Mahameru, sehingga tempat untuk penyimpanan abu leluhur disebut pula Meru, nama gunung tersebut. Di kompleks Prambanan terdapat tiga candi untuk menyembah tritunggal Hindu yang tergambar jelas dalam wujud candi-candi Brahma-Wisnu-Siwa. Hal ini mengingatkan sejarah kepercayaan kuno di Babil dan Asyur sampai Mesopotamia, yakni ANU penguasa langit, ENHIL penguasa bumi dan EA penguasa laut. Pada abad 1M di Palmyra percaya adanya Allah Bulan, Langit dan Matahari. Sementara kepercayaan tritunggal di Mesir abad ke-2 adalah Horus-Isis-Osiris, dan pada zaman Ramses II menjadi Amon-Ra-Nut.
TRINITAS = AZAS DOKTRIN GEREJA LAIN
MAKA HARUS DIRUNTUHKAN
Sejarah Trinitas dalam keyakinan gereja menyangkut keesaan Tuhan dalam tiga wujud yakni Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus baru dimulai pada Konsili Nicea yang diprakarsai oleh Kaisar Konstantin tahun 325M dan dipertegas doktrin tersebut di Konstantinopel pada masa Kaisar Theodosius tahun 381M. Fakta yang mengelabuhi umat ini terkandung di dalamnya kelemahan mendasar antara lain; terputusnya doktrin keesaan Allah yang dibawa Yesus (Luk 8:4, Mat 28:19, Kel 3:20), terputusnya kenabian Yesus (Yoh 14:16-17 dan QS 1:27) dengan konsekwensi terbongkarnya taktik busuk itu seperti disindir Albaqarah ayat ke-27 “dan mereka memutuskan kebenaran yang diperintahkan Allah, yaitu untuk menghubungkan tali hubungan serta tidak merusak di bumi”. Langkah busuk itu seperti merusak perjanjian saat manusia ditanya bukankah Aku Tuhanmu, maka manusia menyembah seraya membenarkan “ba laa syahidna” Engkaulah Tuhan Yang Esa, mereka juga menutupi kebenaran bahwa Yesus adalah utusan Allah, dan mereka menyesatkan pemikiran keesaan Allah (Yah 1:12, 2Sem 7:13-14) serta menyebar luaskan kesesatan itu ke seluruh dunia. Sungguh cara yang salah dari awalnya dan pasti akan binasa (Ibr 1:10-11).
Akar doktrin trinitas (Mat 28:19-20) ini kemudian dijadikan landasan untuk menebar kesalahan berikut sedang mereka sadar Tuhan tahu atas kesalahan yang mereka lakukan (Maz 139:4, Luk 8:17). Seperti Dosa Waris dengan memanipulasi kenabian Yesus dan memposisikannya sebagai figur tuhan, menjadikan alasan prilaku Siti Hawa yang makan buah terlarang sebagai tameng kesalahan seluruh keturunannya, sekaligus mengangkat Yesus menjadi penolong yang membebaskan anak keturunan Adam itu dari dosa jika mengakui ketuhanan Yesus. Taktik yang salah, justru Yesus sendiri menyangkal dirinya Tuhan (Luk 18:19), melarang dirinya disembah (Luk 4:7-8) dan hanya menyembah Allah Tuhan Yang Esa (Ul 6:4). Kalau benar dia Tuhan, kenapa Yesus memohon pertolongan agar tidak disalib (Maz 33:20, Mrk 14:33-36), bahkan tak kuasa mengatasi nasibnya sendiri (Mrk 14:33-34), serta ia tegaskan hanya Allah yang tahu bagaimana akhir nanti (Mat 24:35:36), hanya Allah sang juru selamat (Yes 43:11, Yes 60:16). Bandingkan dengan peringatan Al-An’am 70 agar tak terjerumus dengan tipu daya manusia menjadikan agama sebagai penebus dosa, nerakalah balasannya.
Dengan gugurnya dasar ketuhanan Yesus, maka doktrin trinitas kehilangan makna yang sebenarnya, demikian pula ajaran keselamatan (Wah 12:10, Kis 15:11) yang hanya memiliki satu missi tujuan (Wah 12:10, Ibr 9:28), mengapa kenabian Yesus harus menanggung dosa kesalahan anak cucu Adam. Bahwa tiap-tiap umat menaklukkan dirinya sendiri atas kuasa Tuhan (Rum 13:1 dan QS Ali Imron 189) dan bukanlah sebab muasal kejadian berasal dari Yesus (1Kor 8:6) melainkan dari Allah (Maz 148:5).
CARA MERUNTUHKAN TRINITAS
Ajaran dosa waris dan doktrin-doktrin gereja lain hanyalah sarana penyesatan gereja yang pangkalnya adalah azas keyakinan trinitas, sebuah kecenderungan naluriah manusia untuk menyembah banyak Tuhan. Sampai pada titik keterbatasan berpikir dimana manusia tak mampu memperoleh jawab tentang penciptaan, dia butuh wahyu berupa petunjuk (hidayah) agama melalui Nabi atau Rasul. Islam mengajarkan adanya tingkatan hidayah yang bisa dikenali dan mampu menyelamatkan hidup manusia, pertama berupa naluri fitrah (ilham) sebagaimana dimiliki binatang. Kedua, hidayah berupa indera yang berjumlah lima dengan masing-masing fungsinya. Ketiga, akal manusia yang membedakannya dengan hewan, keempat adalah petunjuk agama berdasar wahyu, dan terakhir berupa taufiq pertolongan Allah untuk mengatasi setiap persoalan manusia.
Bagian persoalan manusia yang nampak di luar memang persoalan materi, tapi harus diingat kebutuhan esensi tetap pada ketenangan, keberkahan hidup atas manfaat materi itu sendiri. Sedang kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya, (menurut Maslow) dapat dipenuhi menurut prioritas, hingga peta kebutuhan itu berurut dari nomer satu sampai tujuh dimulai makan, kebutuhan tempat tinggal sampai kebutuhan akan aktualisasi diri yang bersifat non-materi. Pada kebutuhan terakhir inilah akan terlihat pengaruh sebuah keyakinan ketuhanan tiap manusia, meskipun sepintas sulit dipilah-pilah. Namun akan terlihat beda seseorang yang bertuhan dan yang tak bertuhan, antara aliran tauhid dengan pluralis, sinkritis dan atheis. Mungkin disisi kebendaan (material) sama sebagai manusia butuh makan minum dan lainnya, tapi siapa tahu niat pemikiran yang diangankan selalu merusak dan menebar kesesatan. Dari orientasi hidup inilah, kita fahami gerakan kristenisasi merupakan program gereja yang mendunia dengan menggunakan segala cara, dari segala lini dan tingkat sosial ekonomi manusia.
Untuk meruntuhkan doktrin dasar trinitas, harus dibingkai dari keseluruhan tujuan kristenisasi itu sendiri dengan jawaban keutuhan langkah pada masing-masing bidang. Kalau cara mereka menjalankan kristenisasi pemurtatan dengan pendidikan, sarana materi, pemanfaatan media dan solidnya organisasi, kenapa ummat Islam berkutat terus pada cara-cara khutbah? Maka kami mengusulkan alternatif cara, bagaimana meruntuhkan doktrin trinitas:
- Program kaderisasi Da’i Islam harus segera dilakukan seefektif mungkin berdasarkan tujuan yang jelas sesuai tingkat dan kapasitas kebutuhan wilayah.
- Dibutuhkan kerjasama ukhuwah yang padu menyebarkan, menjalankan dan memperjuangkan syari’at islam dengan benar tanpa mengindahkan rencana kristenisasi gereja semata.
- Memanfaatkan kemajuan media informasi seoptimal mungkin untuk menggalang kekuatan pendidikan, ekonomi dan politik di masing-masing posisi maupun kapasitas da’i, hingga hadirnya Islam menjadi berkah bukan bencana.
- Membangun basis-basis kekuatan aqidah yang solutif memberi alternatif jalan keluar kesulitan ummat, antara lain dengan memperbanyak dialog agama Islam-Kristen yang berorientasi penyadaran dan dakwah, bukan semata bertujuan mengalahkan debat ketuhanan.
AKAR TEOLOGI KRISTEN
DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN
Latar Ketuhanan:
1. Manusia diberi fitrah kebebasan memilih, namun dalam hidup dia cenderung mencari di luar dirinya sebuah kekuatan adikodrati di gunung-laut yang diyakini sebagai tuhan. Kekuatan magis ilahiyah itu dipercaya berada pada makhluk ciptaan lain. Mereka membuat simbol-simbol dan perlambangan dari apa yang dianggapnya tuhan tersebut.
2. Manusia tidak akan mampu sampai kepada kebenaran hakiki, jika dia harus berpikir sendiri (naluri indera dan ilham) tentang khaliq Sang Pencipta. Penemuan Palaeoantropolog tentang manusia purba, menambah kebingunan asal manusia, Homo erectus atau homo-homo lain hingga Homo sapien (Java Man yang diperkirakan 1,8 juta tahun – 300.000 tahun lalu).
3. Islam diturunkan untuk meluruskan kesalahan dengan jalan yang sesuai fitrah manusia, berupa; akal, hidayah dan taufiq. Hidayah akan merubah impuls syaraf kesadaran dari derajat binatang ke posisi kholifatullah fil ardh. Manusia bukan berasal dari hewan, seperti pendapat ulama bahwa jinul ardh telah dibinasakan malaikat karena prilaku merusak dan menumpahkan darah itu, akan sampai pada teori Homo erectus/sapien yang musnah jauh sebelum Adam (lihat Muhyidin, Asal Usul Manusia, 2006, IRCiSoD hal 243). Gereja membagi alasan penebosan Dosa Yesus pada umat manusia dalam tiga periode; 1) 2000 tahun dari Adam hingga Abraham, 2) 2000 tahun dari Abraham – Isa Almasih, 3) 2000 tahun dari Almasih–Kiamat. Drama penyaliban Yesus dengan mengorbankan waktu ±4000 tahun adalah bukti tiadanya faktor hidayah agama. Termonologi kholifah fil ardh, memungkinkan manusia jatuh sehina seekor kera, meski terdapat diskursus hal volume otak kedua spesies. Manusia hanya bertanggung jawab kepada Allah, tidak terhubung amal perbuatan manusia lain sebelumnya.
Pembagian Manusia & Sifat Masing-masing Kelompok:
1. Mu’min dengan mengesakan Allah, kenabian 25 Rasul, Alkitab, Qiyamat, Qadha’ dan Taqdir. Identifikasi muttaqien banyak disebut Al-Qur’an, contohnya ayat QS Al-Baqarah 2-5.
2. Kafir (ingkar) dari janji saat penciptaan disebut dua ayat (QS 2:6-7).
3. Munafiq merupakan tipe ketiga dan berjumlah terbesar, hingga paling banyak disebut dalam Al-Qur’an, mereka memiliki sifat-sifat manusia syaithan seperti 13 ayat (QS 2: 8-20).
Strategi Teologi Tritunggal, Dosa Waris dan Penyaliban Isa menurut QS Al-Baqarah 27:
1. Manusia yang cenderung melanggar janjinya sendiri dalam mengesakan Allah. Srateginya: merusak janji dengan cara tidak mau melaksanakan, meninggalkan akal dan perasaan, serta mangkir terhadap janji kenabian (Al-A’raf 179!).
2. Manusia yang cenderung memutus hubungan kausalitas (maka terputuslah sebab dengan akibat), mereka memilah satu kenabian dari lainnya padahal Isa telah memberi tanda keutuhan arti kenabian dirinya sampai Muhammad SAW (lihat Albaqoroh 146!). Pemutusan untuk tidak taat pada tatanan Syari’at dan prinsip Hudud, sedangkan putus hubung kepada Rahim (seperti disepakati Jumhur) adalah bagian kecil dari itu.
3. Manusia yang cenderung merusak di bumi dengan kemaksiatan, fitnah, merintangi iman seseorang, penyesatan aqidah dan penyebaran keragu-raguan. Strategi perusakan: beribadah kepada selain Allah, berbuat aniaya (dholim) dalam segala hal, mengikuti syahwat yang merupakan puncak segala kerusakan.
Apa agenda mengahadapi kristenisasi? Bahwa sesat dari hidayah itu berdasar ayat sebelum (Albaqarah 26): kata kerja menyesatkan dan memberi-hidayah! “Menyesatkan” adalah sumber kekufuran, dan mengisyaratkan agar kita memiliki kehati-hatian ekstra dengan kristenisasi, liberalism, pluralism dll bentuk kesesatan yang terus akan terjadi di masa datang dimanapun sepanjang zaman. Wallahu a’lam bis-showab.
Sumber : Tafsir AL-MUNIR juz 1 halaman 114..
Disampaikan dalam Forum Kamis di Sekretariat FDK.
posted By : Kor 2
No comments:
Post a Comment